Bagi orang seperti saya, yang tergabung dalam sebuah komunitas pencinta alam, untuk hal mendaki gunung tidak perlu ditanya lagi. Pastilah saya mau. Bahkan ketika ada jadwal kuliah, bablas sajah. Yang penting hati senang. Tapi, taukah anda, mendaki gunung bukanlah hal yang "itu-itu" saja. Mendaki gunung bukan sembarang kegiatan yang bisa dilakukan siapapun. Ada etika pendakian yang HARUS diperhatikan oleh sang pendaki, apa saja itu?
1. Dilarang mengambil apapun kecuali potret.
2. Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak kaki.
Dua hal inilah yang seringnya diabaikan oleh sang pendaki, baik itu pendaki freelance maupun pencinta alam. Mengapa hal ini terjadi? Entahlah, seperti sudah mengakar dalam budaya kita. Budaya ketidakpedulian terhadap lingkungan. Rendahnya kesadaran akan tanggung jawab, menjadi momok utama dalam hal ini.
Liburan tahun baru hijriyah pada november lalu, saya beserta kedua saudara saya melakukan perjalanan ke Purwokerto. Kami bermaksud mendaki gunung Slamet yang terletak di Bambangan, Purbalingga. Kami berangkat dari Jakarta pukul sepuluh malam bersama dua rekan dari Institut Bisnis Nusantara. Jadi total kami sekarang berlima.
Entahlah, mungkin karena terbiasa mendaki gunung salak yang sepi, maka bertemu dengan banyak orang di sepanjang jalur membuat saya khususnya sedikit kikuk. Karena harus selalu pasang tampang manis, sedangkan saya cuapek luar biasa.
Yang saya pikirkan kala itu adalah saya mendaki untuk mencari ketenangan. Mengapa bukan tenang yang saya rasa? Bukan hal yang tidak mungkin kalau mereka adalah orang-orang tidak bertanggung jawab. Bisa saja satu diantara sepuluh orang pendaki membuang sampah mereka disini. Atau mereka membuat api unggun, sehingga gunung ini sempat kebakaran, bahkan sisa kebakarannya masih membekas di jalur pendakian. Betapa resahnya!!
"Ini gunung apa mall, kok rame banget!!" selorohku saat kami tiba di Pos 5. Disini terdapat pondok untuk berteduh. Ada sekitar empat puluh orang lebih disini. Bayangkan, betapa ramainya. Ini di gunung lho. Tapi sudah kayak di Bumi Perkemahan, tenda berjejer di luar pondok. Sedangkan saya dan rekan-rekan memutuskan untuk tidur di dalam pondok.
Ini suasana pos 5, tempat kami memasak. Ada banyak sampah botol plastik, sisa makanan, bungkus mie instan, dan tissue. Berserakan. Sama seperti manusia-manusianya, berserakan dimana-mana.
Kesal? Hm, aku tidak bisa melarang siapapun untuk tidak mendaki. Gunung bukan milik siapa-siapa, milik Tuhan, tentu saja siapapun boleh mendakinya. Itu hak mereka. Tapi tidakkah mereka memiliki kesadaran, bahkan untuk membawa kembali sampah mereka sendiri. Sampah mereka sendiri saja. Karena sampah-sampah ini selain tidak bisa diurai, juga akan merusak keindahannya. Juga menyalahi etika pendakian itu sendiri.
| Suasana Pos 5 |
| Bekas Kebakaran |
Ini adalah pemandangan yang miris. Sangat disayangkan, gunung yang indah ini hancur oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Saya hanya mengelus dada. Berharap orang-orang setidaknya punya kesadaran akan lingkungan. Berharap semua orang mencintai bumi ini dan dengan tangannya bersama senantiasa merawat dan menjaga.
Ada satu pepatah yang aku suka, "Sayangilah apa yang ada di bumi, maka yang di langit akan berbalik menyayangimu.". Sepertinya kalimat itu menjadi pelipur lara bagi bumi kita yang indah. Bumi Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar