Nissa memandang pantulan wajahnya di
cermin. Pikirannya bertumpu pada sekelebat bayangan seseorang. Seseorang yang
selama ini selalu mengganggu pikirannya. Seseorang yang selalu datang di
mimpinya kala ia rindu. Sekalipun ia tepis, bayang itu selalu datang, dan makin
lama makin utuh di benak. Nissa coba hapus, tapi ia laksana virus ganas yang
tak bisa dihapus.
Dipejamkan
mata bundarnya yang lelah. Lelah menepis setiap goda dan tanya yang menerpa. Dalam
setiap baris doa, dalam setiap panjatan keinginannya, Nissa sampaikan gelisah
hatinya yang menanti untaian kasih. “Ya
Allah, kutitipkan hatiku padamu, semoga ia berlabuh pada orang yang berada
dalam ridhoMu”. Nisa bergumam dalam.
Nissa
menangkap bayangan Adam sedang berjalan menuju kearahnya. Dia tersenyum manis,
senyum yang membuat Nissa terpana. Hm, Syaiful Adam memang seorang yang
memesona bagi Nissa. Meski segala kekurangan Adam tak luput dari pengamatannya, cinta itu tetap tumbuh di ladang hatinya yang kosong. Yang sama sekali belum
terisi.
“Assalamu’alaikum,
ukhti.” Sapa Adam ramah. Nissa tersenyum. Ia selalu menolak dipanggil ‘ukhti’,
tapi Adam selalu memanggilnya begitu. Entah kenapa Nissa merasa belum pantas
disejajarkan dengan barisan muslimah berjilbab lebar yang selalu Adam panggil ukhti
juga.
“Itu
kan doa, ukhti. Sampaikanlah setiap doamu pada banyak orang, Insya Allah alam
akan mengamini.” ujar Adam. Nissa menghela nafas, ah, kamu tak tahu, betapa sulitnya.
“Ketika
aku memutuskan untuk mengenakan jilbab, aku seperti bayi yang ingin berlari.
Ketika aku memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an, aku seperti bayi yang dipaksa
bernyanyi. Kau tau rasanya seperti apa, bagi orang seperti aku ini sulit.” tandas
Nissa. Adam tersenyum tipis mendengar Nissa berkeluh.
“Siapa
bilang ini mudah? Bukankah Allah mengatakan, dibalik kesulitan itu pasti ada
kemudahan. Sungguh, dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang
menjanjikan seperti itu. Siapa yang kamu percayai janjinya?” ujar Adam sambil
tersenyum. Nissa diam seribu bahasa. Tapi dalam hati ia banyak bergemul. Banyak
berpikir. Berdialog dengan dirinya sendiri.
“Iya.”
Perjuangan
Nissa dimulai disini. Ketika dorongan semangat dari Adam melimpah. Ketika cinta
untuk Adam menggebu. Yang pasti, Nissa ingin mewujudkan dirinya menjadi seorang
ukhti al muslimah. Kata Adam, ukhti al
muslimahlah yang akan membawa ke surga. Jalannya ke surga.
Dalam
pandang sayunya, Nissa berdoa. Ya Allah, semoga aku berubah karena Engkau. Hati
Nissa gamang. Dalam keraguan ia tetap meniti jalannya. Dalam bimbang ia tetap
melangkah. Dengan setengah keyakinan ia tetap maju. Maju untuk mendapat dunia
dan akhiratnya. Untuk mendapat cintanya. Cinta Dia dan dia.
***
Manusia
memang pasti berubah. Seperti itu pula Nissa. Kini ia bukan lagi seorang anak
kecil yang kekanak-kanakkan. Nissa yang sekarang adalah seorang wanita anggun
yang punya hal-hal prestisius dan menggenggam karir yang gemilang.
Khaerunnisa,
ia menjelma menjadi wanita muslimah yang berhasil meraih mimpinya.
“Kesuksesanku
juga didukung motivasi kakak professor.” Tutur Nissa sambil senyum. Adam memandang
Nissa dalam. Ya, inilah Nissa yang sekarang. Mempesona, tak cengeng seperti
waktu sekolah dulu. Tak manja lagi.
“Ini
semua atas izin Allah.” Ucap Adam. Nissa manggut-manggut. “Rencana ke depan
apa, Nis? Pasti udah ada banyak rencana kan di kepala kamu?”
Nissa
berpikir sebentar. Lalu tersenyum penuh arti. “Hm, cita-citaku yang paling
besar adalah, ingin jadi istri dan ibu yang baik.”
Adam
terbelalak. Lalu kembali tersenyum, “Wah, ini sih indikasi Nissa mau nikah ya?
Haha.” Adam tergelak. “Eh, emang Nissa udah punya pacar ya?” ledeknya. Nissa
merenggut. Manyun sampai lima senti.
“Ye, kan nggak bisa pacaran. Kakak kali ya, udah punya pacar.” Timpal
Nissa sengit. Adam hampir saja menjitak kepala Nissa saking gemasnya.
“Hm,
kayaknya aku harus ngenalin seseorang.” Ujar Adam berbinar. Nissa tiba-tiba
merasa tersudut. Belum apa-apa pikirannya nyangkut kemana-mana. Ngenalin
seseorang? Nissa mulai berpikir cepat, dalam tempo yang singkat ia menemukan
analisa menyebalkan yang membuat raut riang di wajahnya seketika hilang.
Apakah
Adam akan mengenalkan seorang wanita kepadanya?
“Siapa,
kak?” tanya Nissa. Seperti hilang kesadaran. Pandangan matanya kosong.
Berbanding terbalik dengan Adam. Ia Nampak gembira dan sangat antusias. Nissa
terhuyung. Inikah akhir penantiannya selama ini. Setelah sabar menunggu.
Setelah berusaha dengan sekuat tenaga menjaga cintanya. Meski sebenarnya Adam
tak tahu. Meski sebenarnya dunia akan Nissa tukar untuk Adam jika dia ingin.
Ibarat kata, gunung akan ia daki, lautan ia sebrangi. Hanya untuk kekasih hati.
Tapi, akankah semuanya hancur hanya dengan satu kata? Dengan satu keputusan?
Nissa
pura-pura bahagia. Mukanya memerah karena malu dan kecewa. Malu pada takdir.
Malu pada keyakinannya. Malu kepada dirinya karena tiba-tiba menara
keyakinannya goyah. Sadarlah hey Nissa. Inilah kenyataan. Kadang orang harus
lama menunggu untuk mendapat apa yang ia inginkan. Ketika kita berdoa, mungkin bukan
Allah tak menjawabnya. Namun seringkali jawabannya adalah tidak. Nissa menatap
punggung Adam yang makin menjauh. Kalau
ia pergi, tak pernah kembali menoleh. Nissa tak pernah berpaling. Hingga
bayangan Adam hilang dari matanya. Namun kali ini ada yang berbeda. Adam
menoleh. Ia melihat dirinya di mata Nissa. Kecil dan jauh. Nissa tersenyum
getir sambil melambaikan tangan. Lambaian tangan yang sama sekali tak
bergairah.
***
Nissa
mendapat sebuah pesan singkat dari Adam. Pesan yang berupa agenda. Akh, mana
mungkin Nissa lupa. Hari ini Adam akan mengenalkan seseorang pada Nissa.
Seseorang yang menentukan apakah penantian Nissa akan berakhir disini atau
tidak. Ataukah Nissa akan tetap memupuk cintanya meski hati Adam sudah dimiliki
orang lain. Nissa tak peduli. Hari ini ia akan datang. Meski dengan itu ia akan
menangis darah atau mengeluarkan ingus batu. Meski ia akan langsung pingsan begitu
bertemu. Atau kemungkinan aneh lain.
Akhirnya
Nissa pun datang. Dengan mantap ia melangkah. Sebelumnya Nissa hilangkan raut
jengkel dan menyetel tampang manis. Ia kenakan gamis terbaiknya. Kerudung ungu
tersampir dengan indah melindungi mahkotanya. Dan ia menjejakkan kaki dengan
binar kekaguman dari orang disekelilingnya. Segenap hatinya memohon ketegaran.
Meminta pundak yang kokoh dan cukup kuat untuk menopang beban dukanya.
Adam
tersenyum. Ia duduk sendiri. Namun gelas juice di meja sudah tersaji. Tiga
buah. Hm, nampaknya Adam paham betul seleranya. Sampai-sampai sudah dipesankan
minum segala. Nissa sedikit sebal. Tapi hari ini ia berjanji, ia tak akan
bermuka sedih. Ia akan tersenyum sampai pulang nanti. Ya, pasti.
“Subhanallah,
ukhti.” Komentar Adam manis. Nissa tersipu. Tidak. Jangan terlalu senang Nissa.
Nissa membatin. Ia duduk di depan Adam dengan anggun. Adam akui. Nissa yang
sekarang jauh lebih cantik dengan balutan busana muslim. Jauh lebih dari apa
yang dapat ia bayangkan.
“Dia
bentar lagi kesini. Katanya masih ada perlu sama kakaknya.” Tutur Adam. Nissa
Cuma manggut-manggut. Ia sama sekali tak butuh informasi itu. Nissa sudah tak
sabar. Seperti apa ukhti yang akan Adam bawa kehadapannya. Apakah lebih
darinya? Ah, Nissa menggeleng dalam hati. Tidak Nissa. Sifat sombong bukanlah
ciri seorang ukhti. Nissa tertunduk malu. Hatinya belum ia selimuti. Ia masih
berpenyakit.
“Assalamu’alaikum.”
Seseorang di balik punggung Nissa menyapa mereka berdua dengan nada riang.
Nissa mengernyit. Dari suaranya sih, seorang ikhwan. Nissa berbalik. Hatinya
langsung bertasbih. Belum sedetik kemudian Nissa berpaling. Menatap kearah
lain. Subhanallah, orang ini ganteng banget. Tampangnya Indonesia sekali dengan
senyumnya yang menawan. Adam terlihat akrab. Mereka bercakap-cakap ramai. Nissa
duduk dengan hati gelisah. Adam, untuk apa dia membawa orang lain segala.
Apakah ia takut Nissa akan kesepian. Jadi kambing congek gitu? Hm, menyebalkan.
“Ngomong-ngomong,
siapa adik kecil ini?” tanya ikhwan itu. Mereka kini duduk berbincang bertiga.
Meski pembicaraan dikuasai dua orang ikhwan ini. Nissa tersenyum manis.
“Kenalkan,
ini Khaerunnissa, adik saya.” Ujar Adam senang. Nissa mencelos. Adik? Benarkah
hanya sebagai seorang adik? Nissa berkaca-kaca. Ia seperti sedang memakai celak
di matanya. Perih dan basah oleh air mata.
“Saya
Aliansyah.”
***
“Dia
ganteng, kan? Baik lagi.”
Nafas
Nissa memburu. Maunya apa sih orang ini? Ingin
sekali Nissa membanting handphone-nya
ke cermin. Merusak bayangannya yang entah berekspresi seperti apa.
“Iya
lah. Kalo dibandingin kakak dia lebih ganteng. Lebih akhi.” Ujar Nissa
asal-asalan. Sedetik kemudian Nissa sadar. Kata-katanya terlalu kasar. Hm semoga
Adam maklum. Nissa menggigit bibirnya cemas.
“Bagus
deh kalau gitu. Semoga sukses ya. Katanya mau jadi istri dan ibu yang baik.
Hehe” candanya garing. Nissa tak berkomentar apapun. Adam akhirnya bersuara.
“Nissa, nama kamu itu artinya apa ya?”
“Kenapa
nanya gitu? Emang kakak ga tau?” Nissa manyun.
“Tahukah
kamu memiliki nama yang indah. Khaerunnissa yang berate sebaik-baik wanita. Tahukah
kamu, sebaik-baik wanita itu seperti apa?”
Nissa
diam lagi. Kejadian hari ini cukup untuk membuatnya ngeyel dan bête sepanjang
hari. Dan kali ini, Nissa memaksakan diri bicara dengan Adam.
“Sebaik-baik
wanita itu adalah yang bila diberi sesuatu ia bersyukur, dan bila tidak diberi
apa-apa ia bersabar. Yang menyenangkan bila dilihat dan menaati bila disuruh.
Doa kakak untuk Nissa, semoga Nissa adalah sebaik-baik wanita di dunia ini.”
“Begitukah?
Amin. Makasih, ka.” Tandas Nissa dalam. Sungguh, ia ingin berteriak pada dunia.
Hanya Syaiful Adam yang menempati hatinya. Seberapa tampan orang itu tak akan
mampu membuat hatinya berpaling. Setelah bertahun-tahun ia melabuhkan rindu
pada sosoknya. Tidak, kakak. Hanya kakak yang Nissa ingin.
“Ya
udah. Istirahat sana. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Assalamualaikum.”
Klik.
Sambungan terputus. Nissa membiarkan malaikat yang menjawab salam Adam.
Pikirannya mengembara, menerka-nerka. Dan hanya satu kata yang ia temukan.
Cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Kalau
aku tak punya agama. Kalau aku tak punya kesabaran, kalau aku adalah orang yang
berbuat semauku, kalau aku tidak malu. Mungkin aku sudah menyerahkan semua yang
aku punya untukmu. Ini adalah perasaan besar, yang belum pernah aku punya
sebelumnya.”
Tahukah
kau kepada siapa orang yang mencintai akan dibalas beribu-ribu kali lipat.
Tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan dan merasa kecewa?
Segurat
rasa kecewa Nissa menghadirkan tanya dalam hati. Tuluskah ia memperbaiki diri?
Apa ini karena Dia atau dia? Perbaikan diri ini apakah untuk mendapat perhatian
Dia atau dia? Dia atau dia? Nissa terhelap. Astaghfirullah. Ia beristigfar
berkali-kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar