Minggu, 06 Januari 2013

Menjadi Siapa?


            Nissa memandang pantulan wajahnya di cermin. Pikirannya bertumpu pada sekelebat bayangan seseorang. Seseorang yang selama ini selalu mengganggu pikirannya. Seseorang yang selalu datang di mimpinya kala ia rindu. Sekalipun ia tepis, bayang itu selalu datang, dan makin lama makin utuh di benak. Nissa coba hapus, tapi ia laksana virus ganas yang tak bisa dihapus.
            Dipejamkan mata bundarnya yang lelah. Lelah menepis setiap goda dan tanya yang menerpa. Dalam setiap baris doa, dalam setiap panjatan keinginannya, Nissa sampaikan gelisah hatinya yang menanti untaian kasih. “Ya Allah, kutitipkan hatiku padamu, semoga ia berlabuh pada orang yang berada dalam ridhoMu”. Nisa bergumam dalam.

            Nissa menangkap bayangan Adam sedang berjalan menuju kearahnya. Dia tersenyum manis, senyum yang membuat Nissa terpana. Hm, Syaiful Adam memang seorang yang memesona bagi Nissa. Meski segala kekurangan Adam tak luput dari pengamatannya, cinta itu tetap tumbuh di ladang hatinya yang kosong. Yang sama sekali belum terisi.
            “Assalamu’alaikum, ukhti.” Sapa Adam ramah. Nissa tersenyum. Ia selalu menolak dipanggil ‘ukhti’, tapi Adam selalu memanggilnya begitu. Entah kenapa Nissa merasa belum pantas disejajarkan dengan barisan muslimah berjilbab lebar yang selalu Adam panggil ukhti juga.
            “Itu kan doa, ukhti. Sampaikanlah setiap doamu pada banyak orang, Insya Allah alam akan mengamini.” ujar Adam. Nissa menghela nafas, ah, kamu tak tahu, betapa sulitnya.
            “Ketika aku memutuskan untuk mengenakan jilbab, aku seperti bayi yang ingin berlari. Ketika aku memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an, aku seperti bayi yang dipaksa bernyanyi. Kau tau rasanya seperti apa, bagi orang seperti aku ini sulit.” tandas Nissa. Adam tersenyum tipis mendengar Nissa berkeluh.
            “Siapa bilang ini mudah? Bukankah Allah mengatakan, dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sungguh, dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menjanjikan seperti itu. Siapa yang kamu percayai janjinya?” ujar Adam sambil tersenyum. Nissa diam seribu bahasa. Tapi dalam hati ia banyak bergemul. Banyak berpikir. Berdialog dengan dirinya sendiri.
            “Iya.”
            Perjuangan Nissa dimulai disini. Ketika dorongan semangat dari Adam melimpah. Ketika cinta untuk Adam menggebu. Yang pasti, Nissa ingin mewujudkan dirinya menjadi seorang ukhti  al muslimah. Kata Adam, ukhti al muslimahlah yang akan membawa ke surga. Jalannya ke surga.
            Dalam pandang sayunya, Nissa berdoa. Ya Allah, semoga aku berubah karena Engkau. Hati Nissa gamang. Dalam keraguan ia tetap meniti jalannya. Dalam bimbang ia tetap melangkah. Dengan setengah keyakinan ia tetap maju. Maju untuk mendapat dunia dan akhiratnya. Untuk mendapat cintanya. Cinta Dia dan dia.
***
            Manusia memang pasti berubah. Seperti itu pula Nissa. Kini ia bukan lagi seorang anak kecil yang kekanak-kanakkan. Nissa yang sekarang adalah seorang wanita anggun yang punya hal-hal prestisius dan menggenggam karir yang gemilang.
            Khaerunnisa, ia menjelma menjadi wanita muslimah yang berhasil meraih mimpinya. 
            “Kesuksesanku juga didukung motivasi kakak professor.” Tutur Nissa sambil senyum. Adam memandang Nissa dalam. Ya, inilah Nissa yang sekarang. Mempesona, tak cengeng seperti waktu sekolah dulu. Tak manja lagi.
            “Ini semua atas izin Allah.” Ucap Adam. Nissa manggut-manggut. “Rencana ke depan apa, Nis? Pasti udah ada banyak rencana kan di kepala kamu?”
            Nissa berpikir sebentar. Lalu tersenyum penuh arti. “Hm, cita-citaku yang paling besar adalah, ingin jadi istri dan ibu yang baik.”
            Adam terbelalak. Lalu kembali tersenyum, “Wah, ini sih indikasi Nissa mau nikah ya? Haha.” Adam tergelak. “Eh, emang Nissa udah punya pacar ya?” ledeknya. Nissa merenggut. Manyun sampai lima senti.
            “Ye, kan nggak bisa pacaran. Kakak kali ya, udah punya pacar.” Timpal Nissa sengit. Adam hampir saja menjitak kepala Nissa saking gemasnya.
            “Hm, kayaknya aku harus ngenalin seseorang.” Ujar Adam berbinar. Nissa tiba-tiba merasa tersudut. Belum apa-apa pikirannya nyangkut kemana-mana. Ngenalin seseorang? Nissa mulai berpikir cepat, dalam tempo yang singkat ia menemukan analisa menyebalkan yang membuat raut riang di wajahnya seketika hilang.
            Apakah Adam akan mengenalkan seorang wanita kepadanya?
            “Siapa, kak?” tanya Nissa. Seperti hilang kesadaran. Pandangan matanya kosong. Berbanding terbalik dengan Adam. Ia Nampak gembira dan sangat antusias. Nissa terhuyung. Inikah akhir penantiannya selama ini. Setelah sabar menunggu. Setelah berusaha dengan sekuat tenaga menjaga cintanya. Meski sebenarnya Adam tak tahu. Meski sebenarnya dunia akan Nissa tukar untuk Adam jika dia ingin. Ibarat kata, gunung akan ia daki, lautan ia sebrangi. Hanya untuk kekasih hati. Tapi, akankah semuanya hancur hanya dengan satu kata? Dengan satu keputusan?
            Nissa pura-pura bahagia. Mukanya memerah karena malu dan kecewa. Malu pada takdir. Malu pada keyakinannya. Malu kepada dirinya karena tiba-tiba menara keyakinannya goyah. Sadarlah hey Nissa. Inilah kenyataan. Kadang orang harus lama menunggu untuk mendapat apa yang ia inginkan. Ketika kita berdoa, mungkin bukan Allah tak menjawabnya. Namun seringkali jawabannya adalah tidak. Nissa menatap punggung Adam yang makin menjauh. Kalau ia pergi, tak pernah kembali menoleh. Nissa tak pernah berpaling. Hingga bayangan Adam hilang dari matanya. Namun kali ini ada yang berbeda. Adam menoleh. Ia melihat dirinya di mata Nissa. Kecil dan jauh. Nissa tersenyum getir sambil melambaikan tangan. Lambaian tangan yang sama sekali tak bergairah.
***
            Nissa mendapat sebuah pesan singkat dari Adam. Pesan yang berupa agenda. Akh, mana mungkin Nissa lupa. Hari ini Adam akan mengenalkan seseorang pada Nissa. Seseorang yang menentukan apakah penantian Nissa akan berakhir disini atau tidak. Ataukah Nissa akan tetap memupuk cintanya meski hati Adam sudah dimiliki orang lain. Nissa tak peduli. Hari ini ia akan datang. Meski dengan itu ia akan menangis darah atau mengeluarkan ingus batu. Meski ia akan langsung pingsan begitu bertemu. Atau kemungkinan aneh lain.
            Akhirnya Nissa pun datang. Dengan mantap ia melangkah. Sebelumnya Nissa hilangkan raut jengkel dan menyetel tampang manis. Ia kenakan gamis terbaiknya. Kerudung ungu tersampir dengan indah melindungi mahkotanya. Dan ia menjejakkan kaki dengan binar kekaguman dari orang disekelilingnya. Segenap hatinya memohon ketegaran. Meminta pundak yang kokoh dan cukup kuat untuk menopang beban dukanya.
            Adam tersenyum. Ia duduk sendiri. Namun gelas juice di meja sudah tersaji. Tiga buah. Hm, nampaknya Adam paham betul seleranya. Sampai-sampai sudah dipesankan minum segala. Nissa sedikit sebal. Tapi hari ini ia berjanji, ia tak akan bermuka sedih. Ia akan tersenyum sampai pulang nanti. Ya, pasti.
            “Subhanallah, ukhti.” Komentar Adam manis. Nissa tersipu. Tidak. Jangan terlalu senang Nissa. Nissa membatin. Ia duduk di depan Adam dengan anggun. Adam akui. Nissa yang sekarang jauh lebih cantik dengan balutan busana muslim. Jauh lebih dari apa yang dapat ia bayangkan.
            “Dia bentar lagi kesini. Katanya masih ada perlu sama kakaknya.” Tutur Adam. Nissa Cuma manggut-manggut. Ia sama sekali tak butuh informasi itu. Nissa sudah tak sabar. Seperti apa ukhti yang akan Adam bawa kehadapannya. Apakah lebih darinya? Ah, Nissa menggeleng dalam hati. Tidak Nissa. Sifat sombong bukanlah ciri seorang ukhti. Nissa tertunduk malu. Hatinya belum ia selimuti. Ia masih berpenyakit.
            “Assalamu’alaikum.” Seseorang di balik punggung Nissa menyapa mereka berdua dengan nada riang. Nissa mengernyit. Dari suaranya sih, seorang ikhwan. Nissa berbalik. Hatinya langsung bertasbih. Belum sedetik kemudian Nissa berpaling. Menatap kearah lain. Subhanallah, orang ini ganteng banget. Tampangnya Indonesia sekali dengan senyumnya yang menawan. Adam terlihat akrab. Mereka bercakap-cakap ramai. Nissa duduk dengan hati gelisah. Adam, untuk apa dia membawa orang lain segala. Apakah ia takut Nissa akan kesepian. Jadi kambing congek gitu? Hm, menyebalkan.
            “Ngomong-ngomong, siapa adik kecil ini?” tanya ikhwan itu. Mereka kini duduk berbincang bertiga. Meski pembicaraan dikuasai dua orang ikhwan ini. Nissa tersenyum manis.
            “Kenalkan, ini Khaerunnissa, adik saya.” Ujar Adam senang. Nissa mencelos. Adik? Benarkah hanya sebagai seorang adik? Nissa berkaca-kaca. Ia seperti sedang memakai celak di matanya. Perih dan basah oleh air mata.
            “Saya Aliansyah.”
***
            “Dia ganteng, kan? Baik lagi.”
            Nafas Nissa memburu. Maunya apa sih orang ini? Ingin sekali Nissa membanting handphone-nya ke cermin. Merusak bayangannya yang entah berekspresi seperti apa.
            “Iya lah. Kalo dibandingin kakak dia lebih ganteng. Lebih akhi.” Ujar Nissa asal-asalan. Sedetik kemudian Nissa sadar. Kata-katanya terlalu kasar. Hm semoga Adam maklum. Nissa menggigit bibirnya cemas.
            “Bagus deh kalau gitu. Semoga sukses ya. Katanya mau jadi istri dan ibu yang baik. Hehe” candanya garing. Nissa tak berkomentar apapun. Adam akhirnya bersuara. “Nissa, nama kamu itu artinya apa ya?”
            “Kenapa nanya gitu? Emang kakak ga tau?” Nissa manyun.
            “Tahukah kamu memiliki nama yang indah. Khaerunnissa yang berate sebaik-baik wanita. Tahukah kamu, sebaik-baik wanita itu seperti apa?”
            Nissa diam lagi. Kejadian hari ini cukup untuk membuatnya ngeyel dan bête sepanjang hari. Dan kali ini, Nissa memaksakan diri bicara dengan Adam.
            “Sebaik-baik wanita itu adalah yang bila diberi sesuatu ia bersyukur, dan bila tidak diberi apa-apa ia bersabar. Yang menyenangkan bila dilihat dan menaati bila disuruh. Doa kakak untuk Nissa, semoga Nissa adalah sebaik-baik wanita di dunia ini.”
            “Begitukah? Amin. Makasih, ka.” Tandas Nissa dalam. Sungguh, ia ingin berteriak pada dunia. Hanya Syaiful Adam yang menempati hatinya. Seberapa tampan orang itu tak akan mampu membuat hatinya berpaling. Setelah bertahun-tahun ia melabuhkan rindu pada sosoknya. Tidak, kakak. Hanya kakak yang Nissa ingin.
            “Ya udah. Istirahat sana. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Assalamualaikum.”
            Klik. Sambungan terputus. Nissa membiarkan malaikat yang menjawab salam Adam. Pikirannya mengembara, menerka-nerka. Dan hanya satu kata yang ia temukan. Cintanya bertepuk sebelah tangan.
            “Kalau aku tak punya agama. Kalau aku tak punya kesabaran, kalau aku adalah orang yang berbuat semauku, kalau aku tidak malu. Mungkin aku sudah menyerahkan semua yang aku punya untukmu. Ini adalah perasaan besar, yang belum pernah aku punya sebelumnya.”
            Tahukah kau kepada siapa orang yang mencintai akan dibalas beribu-ribu kali lipat. Tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan dan merasa kecewa?
            Segurat rasa kecewa Nissa menghadirkan tanya dalam hati. Tuluskah ia memperbaiki diri? Apa ini karena Dia atau dia? Perbaikan diri ini apakah untuk mendapat perhatian Dia atau dia? Dia atau dia? Nissa terhelap. Astaghfirullah. Ia beristigfar berkali-kali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar