Jumat, 18 Januari 2013
Titik Jenuh
Pada suatu masa manusia mengalami sebuah titik dimana ia merasa sangat berat menjalaninya. Itulah titik jenuh. Dimana tak ada tempat bersandar. Dimana tak ada yang mengerti. Dimana merasa sendiri. Disitulah titik jenuh bermuara. Perpaduan antara yang asin dan yang tawar. Disanalah ia berada. Titik jenuh.
Selasa, 15 Januari 2013
Aku, kamu, dan hujan...
Terimakasih hujan untuk hari ini.
Terimakasih untuk meluruhkan hatiku yang membara dengan percikan lembutmu.
Minggu, 13 Januari 2013
Bagaimana masa depan saya...
Kalo ngomongin masa depan, rasanya kayak ngomongin negeri Arab, atau jangan jauh-jauh, ngomongin Karawang deh. Gue nggak tau seluk beluknya sampai detail, masih menerawang dan banyak yang nggak taunya. Hanya sebagian tempat yang gue ketahui, dan itupun karena sering gue kunjungi. Secara gue lahir disana, minum airnya, menginjak tanahnya, masa iya gue nggak tau.
Ngomongin masa depan juga kayak menyudutkan diri sendiri. Karena masa depan itu tergantung masa kini, dan masa kini tergantung masa lalu. Jadi semua hal yang kita lakukan kapanpun dimana pun ya tergantung kita mengerjakannya hari ini, sungguh-sungguh atau tidak? Lo hari ini, ketika sulit, mungkin karena ketidak seriusan lo di masa lalu. Ibarat kata, apa yang lo tanam, ya itu lah yang akan lo tuai.
Ngomongin lagi masa depan, adalah hal yang benar-benar menakutkan. Karena katanya masa depan itu misteri. Di dalam benak gue, misteri itu ya menakutkan. Kenapa? Karena yang menakutkan itu gelap, tidak diketahui alias remang-remang. Siapapun tidak akan menyangka nasibnya akan seperti apa nanti. Tapi, hidup itu cuma sekali, jadi nikmati saja. Kuncinya hanya satu, sungguh-sungguh.
Lalu, bagaimana masa depan saya?
Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah SWT. Engkaulah pelita dalam setiap langkah, firman-Mu adalah petunjuk dalam setiap langkah. Gue punya Tuhan, dan gue percaya Tuhan punya rencana yang indah untuk gue, tanpa gue harus khawatir akan seperti apa masa depan gue nanti.
Dan, pada akhirnya. Masa depan tetaplah ada di tangan gue dan kalian semua. Kalo kata seseorang "Jangan pernah takut, ikutin aja apa kata hati lo. Lo akan tahu batas kemampuan lo segimana."
:D
Ngomongin masa depan juga kayak menyudutkan diri sendiri. Karena masa depan itu tergantung masa kini, dan masa kini tergantung masa lalu. Jadi semua hal yang kita lakukan kapanpun dimana pun ya tergantung kita mengerjakannya hari ini, sungguh-sungguh atau tidak? Lo hari ini, ketika sulit, mungkin karena ketidak seriusan lo di masa lalu. Ibarat kata, apa yang lo tanam, ya itu lah yang akan lo tuai.
Ngomongin lagi masa depan, adalah hal yang benar-benar menakutkan. Karena katanya masa depan itu misteri. Di dalam benak gue, misteri itu ya menakutkan. Kenapa? Karena yang menakutkan itu gelap, tidak diketahui alias remang-remang. Siapapun tidak akan menyangka nasibnya akan seperti apa nanti. Tapi, hidup itu cuma sekali, jadi nikmati saja. Kuncinya hanya satu, sungguh-sungguh.
Lalu, bagaimana masa depan saya?
Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah SWT. Engkaulah pelita dalam setiap langkah, firman-Mu adalah petunjuk dalam setiap langkah. Gue punya Tuhan, dan gue percaya Tuhan punya rencana yang indah untuk gue, tanpa gue harus khawatir akan seperti apa masa depan gue nanti.
Dan, pada akhirnya. Masa depan tetaplah ada di tangan gue dan kalian semua. Kalo kata seseorang "Jangan pernah takut, ikutin aja apa kata hati lo. Lo akan tahu batas kemampuan lo segimana."
:D
Minggu, 06 Januari 2013
Para Pendaki
Mendaki gunung? Hmm, siapa yang mau?
Bagi orang seperti saya, yang tergabung dalam sebuah komunitas pencinta alam, untuk hal mendaki gunung tidak perlu ditanya lagi. Pastilah saya mau. Bahkan ketika ada jadwal kuliah, bablas sajah. Yang penting hati senang. Tapi, taukah anda, mendaki gunung bukanlah hal yang "itu-itu" saja. Mendaki gunung bukan sembarang kegiatan yang bisa dilakukan siapapun. Ada etika pendakian yang HARUS diperhatikan oleh sang pendaki, apa saja itu?
1. Dilarang mengambil apapun kecuali potret.
2. Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak kaki.
Dua hal inilah yang seringnya diabaikan oleh sang pendaki, baik itu pendaki freelance maupun pencinta alam. Mengapa hal ini terjadi? Entahlah, seperti sudah mengakar dalam budaya kita. Budaya ketidakpedulian terhadap lingkungan. Rendahnya kesadaran akan tanggung jawab, menjadi momok utama dalam hal ini.
Liburan tahun baru hijriyah pada november lalu, saya beserta kedua saudara saya melakukan perjalanan ke Purwokerto. Kami bermaksud mendaki gunung Slamet yang terletak di Bambangan, Purbalingga. Kami berangkat dari Jakarta pukul sepuluh malam bersama dua rekan dari Institut Bisnis Nusantara. Jadi total kami sekarang berlima.
Tiba di Terminal Purwokerto pada pagi hari, kami langsung menuju Universitas Muhammadiyah Purwokerto, mengunjungi saudara kami di Mapala Satria UMP. Rencananya kami akan berangkat bersama dengan mereka. Setelah melengkapi perbekalan dan logistik kami berangkat bersepuluh. Menjadi gabungan dari Mapala Djuanda, Nusapala IBN, Mapala Satria UMP, Stacia UMJ, juga dengan anak Yogyakarta, Makassar dan Ambon. Kami bersepuluh berangkat dari sekretariat Mapala Satria sekitar pukul 5 sore setelah menunggu hujan reda menuju Pos Bambangan.
Setelah tiba di Bambangan, kami bertemu dengan banyak pendaki di Pos. Mereka ada yang baru turun, dan ada juga yang akan naik seperti kami. Setelah berbincang-bincang dengan penjaga pos, ternyata ada puluhan pendaki disini. Karena sedang musim liburan, dan Gunung Slamet baru dibuka kembali pasca meletus pada tahun 2010. Maka para pendaki berminat pada gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini. Kami berdecak.
Entahlah, mungkin karena terbiasa mendaki gunung salak yang sepi, maka bertemu dengan banyak orang di sepanjang jalur membuat saya khususnya sedikit kikuk. Karena harus selalu pasang tampang manis, sedangkan saya cuapek luar biasa.
Yang saya pikirkan kala itu adalah saya mendaki untuk mencari ketenangan. Mengapa bukan tenang yang saya rasa? Bukan hal yang tidak mungkin kalau mereka adalah orang-orang tidak bertanggung jawab. Bisa saja satu diantara sepuluh orang pendaki membuang sampah mereka disini. Atau mereka membuat api unggun, sehingga gunung ini sempat kebakaran, bahkan sisa kebakarannya masih membekas di jalur pendakian. Betapa resahnya!!
"Ini gunung apa mall, kok rame banget!!" selorohku saat kami tiba di Pos 5. Disini terdapat pondok untuk berteduh. Ada sekitar empat puluh orang lebih disini. Bayangkan, betapa ramainya. Ini di gunung lho. Tapi sudah kayak di Bumi Perkemahan, tenda berjejer di luar pondok. Sedangkan saya dan rekan-rekan memutuskan untuk tidur di dalam pondok.
Ini suasana pos 5, tempat kami memasak. Ada banyak sampah botol plastik, sisa makanan, bungkus mie instan, dan tissue. Berserakan. Sama seperti manusia-manusianya, berserakan dimana-mana.
Kesal? Hm, aku tidak bisa melarang siapapun untuk tidak mendaki. Gunung bukan milik siapa-siapa, milik Tuhan, tentu saja siapapun boleh mendakinya. Itu hak mereka. Tapi tidakkah mereka memiliki kesadaran, bahkan untuk membawa kembali sampah mereka sendiri. Sampah mereka sendiri saja. Karena sampah-sampah ini selain tidak bisa diurai, juga akan merusak keindahannya. Juga menyalahi etika pendakian itu sendiri.
Ini adalah pemandangan yang miris. Sangat disayangkan, gunung yang indah ini hancur oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Saya hanya mengelus dada. Berharap orang-orang setidaknya punya kesadaran akan lingkungan. Berharap semua orang mencintai bumi ini dan dengan tangannya bersama senantiasa merawat dan menjaga.
Ada satu pepatah yang aku suka, "Sayangilah apa yang ada di bumi, maka yang di langit akan berbalik menyayangimu.". Sepertinya kalimat itu menjadi pelipur lara bagi bumi kita yang indah. Bumi Indonesia.
Bagi orang seperti saya, yang tergabung dalam sebuah komunitas pencinta alam, untuk hal mendaki gunung tidak perlu ditanya lagi. Pastilah saya mau. Bahkan ketika ada jadwal kuliah, bablas sajah. Yang penting hati senang. Tapi, taukah anda, mendaki gunung bukanlah hal yang "itu-itu" saja. Mendaki gunung bukan sembarang kegiatan yang bisa dilakukan siapapun. Ada etika pendakian yang HARUS diperhatikan oleh sang pendaki, apa saja itu?
1. Dilarang mengambil apapun kecuali potret.
2. Dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak kaki.
Dua hal inilah yang seringnya diabaikan oleh sang pendaki, baik itu pendaki freelance maupun pencinta alam. Mengapa hal ini terjadi? Entahlah, seperti sudah mengakar dalam budaya kita. Budaya ketidakpedulian terhadap lingkungan. Rendahnya kesadaran akan tanggung jawab, menjadi momok utama dalam hal ini.
Liburan tahun baru hijriyah pada november lalu, saya beserta kedua saudara saya melakukan perjalanan ke Purwokerto. Kami bermaksud mendaki gunung Slamet yang terletak di Bambangan, Purbalingga. Kami berangkat dari Jakarta pukul sepuluh malam bersama dua rekan dari Institut Bisnis Nusantara. Jadi total kami sekarang berlima.
Entahlah, mungkin karena terbiasa mendaki gunung salak yang sepi, maka bertemu dengan banyak orang di sepanjang jalur membuat saya khususnya sedikit kikuk. Karena harus selalu pasang tampang manis, sedangkan saya cuapek luar biasa.
Yang saya pikirkan kala itu adalah saya mendaki untuk mencari ketenangan. Mengapa bukan tenang yang saya rasa? Bukan hal yang tidak mungkin kalau mereka adalah orang-orang tidak bertanggung jawab. Bisa saja satu diantara sepuluh orang pendaki membuang sampah mereka disini. Atau mereka membuat api unggun, sehingga gunung ini sempat kebakaran, bahkan sisa kebakarannya masih membekas di jalur pendakian. Betapa resahnya!!
"Ini gunung apa mall, kok rame banget!!" selorohku saat kami tiba di Pos 5. Disini terdapat pondok untuk berteduh. Ada sekitar empat puluh orang lebih disini. Bayangkan, betapa ramainya. Ini di gunung lho. Tapi sudah kayak di Bumi Perkemahan, tenda berjejer di luar pondok. Sedangkan saya dan rekan-rekan memutuskan untuk tidur di dalam pondok.
Ini suasana pos 5, tempat kami memasak. Ada banyak sampah botol plastik, sisa makanan, bungkus mie instan, dan tissue. Berserakan. Sama seperti manusia-manusianya, berserakan dimana-mana.
Kesal? Hm, aku tidak bisa melarang siapapun untuk tidak mendaki. Gunung bukan milik siapa-siapa, milik Tuhan, tentu saja siapapun boleh mendakinya. Itu hak mereka. Tapi tidakkah mereka memiliki kesadaran, bahkan untuk membawa kembali sampah mereka sendiri. Sampah mereka sendiri saja. Karena sampah-sampah ini selain tidak bisa diurai, juga akan merusak keindahannya. Juga menyalahi etika pendakian itu sendiri.
| Suasana Pos 5 |
| Bekas Kebakaran |
Ini adalah pemandangan yang miris. Sangat disayangkan, gunung yang indah ini hancur oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Saya hanya mengelus dada. Berharap orang-orang setidaknya punya kesadaran akan lingkungan. Berharap semua orang mencintai bumi ini dan dengan tangannya bersama senantiasa merawat dan menjaga.
Ada satu pepatah yang aku suka, "Sayangilah apa yang ada di bumi, maka yang di langit akan berbalik menyayangimu.". Sepertinya kalimat itu menjadi pelipur lara bagi bumi kita yang indah. Bumi Indonesia.
11.02 PM
Seseorang, kadang tak pernah tahu bahwa ia adalah semangat hidup bagi orang lain. Kumohon, tetaplah ada. Dengan segala yang kupunya akan aku berikan. Dengan segala yang kubisa akan aku lakukan. Maka, tumbuhlah dengan baik jika itu memang harus menjadi baik.
Menjadi Siapa?
Nissa memandang pantulan wajahnya di
cermin. Pikirannya bertumpu pada sekelebat bayangan seseorang. Seseorang yang
selama ini selalu mengganggu pikirannya. Seseorang yang selalu datang di
mimpinya kala ia rindu. Sekalipun ia tepis, bayang itu selalu datang, dan makin
lama makin utuh di benak. Nissa coba hapus, tapi ia laksana virus ganas yang
tak bisa dihapus.
Dipejamkan
mata bundarnya yang lelah. Lelah menepis setiap goda dan tanya yang menerpa. Dalam
setiap baris doa, dalam setiap panjatan keinginannya, Nissa sampaikan gelisah
hatinya yang menanti untaian kasih. “Ya
Allah, kutitipkan hatiku padamu, semoga ia berlabuh pada orang yang berada
dalam ridhoMu”. Nisa bergumam dalam.
Nissa
menangkap bayangan Adam sedang berjalan menuju kearahnya. Dia tersenyum manis,
senyum yang membuat Nissa terpana. Hm, Syaiful Adam memang seorang yang
memesona bagi Nissa. Meski segala kekurangan Adam tak luput dari pengamatannya, cinta itu tetap tumbuh di ladang hatinya yang kosong. Yang sama sekali belum
terisi.
“Assalamu’alaikum,
ukhti.” Sapa Adam ramah. Nissa tersenyum. Ia selalu menolak dipanggil ‘ukhti’,
tapi Adam selalu memanggilnya begitu. Entah kenapa Nissa merasa belum pantas
disejajarkan dengan barisan muslimah berjilbab lebar yang selalu Adam panggil ukhti
juga.
“Itu
kan doa, ukhti. Sampaikanlah setiap doamu pada banyak orang, Insya Allah alam
akan mengamini.” ujar Adam. Nissa menghela nafas, ah, kamu tak tahu, betapa sulitnya.
“Ketika
aku memutuskan untuk mengenakan jilbab, aku seperti bayi yang ingin berlari.
Ketika aku memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an, aku seperti bayi yang dipaksa
bernyanyi. Kau tau rasanya seperti apa, bagi orang seperti aku ini sulit.” tandas
Nissa. Adam tersenyum tipis mendengar Nissa berkeluh.
“Siapa
bilang ini mudah? Bukankah Allah mengatakan, dibalik kesulitan itu pasti ada
kemudahan. Sungguh, dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang
menjanjikan seperti itu. Siapa yang kamu percayai janjinya?” ujar Adam sambil
tersenyum. Nissa diam seribu bahasa. Tapi dalam hati ia banyak bergemul. Banyak
berpikir. Berdialog dengan dirinya sendiri.
“Iya.”
Perjuangan
Nissa dimulai disini. Ketika dorongan semangat dari Adam melimpah. Ketika cinta
untuk Adam menggebu. Yang pasti, Nissa ingin mewujudkan dirinya menjadi seorang
ukhti al muslimah. Kata Adam, ukhti al
muslimahlah yang akan membawa ke surga. Jalannya ke surga.
Dalam
pandang sayunya, Nissa berdoa. Ya Allah, semoga aku berubah karena Engkau. Hati
Nissa gamang. Dalam keraguan ia tetap meniti jalannya. Dalam bimbang ia tetap
melangkah. Dengan setengah keyakinan ia tetap maju. Maju untuk mendapat dunia
dan akhiratnya. Untuk mendapat cintanya. Cinta Dia dan dia.
***
Manusia
memang pasti berubah. Seperti itu pula Nissa. Kini ia bukan lagi seorang anak
kecil yang kekanak-kanakkan. Nissa yang sekarang adalah seorang wanita anggun
yang punya hal-hal prestisius dan menggenggam karir yang gemilang.
Khaerunnisa,
ia menjelma menjadi wanita muslimah yang berhasil meraih mimpinya.
“Kesuksesanku
juga didukung motivasi kakak professor.” Tutur Nissa sambil senyum. Adam memandang
Nissa dalam. Ya, inilah Nissa yang sekarang. Mempesona, tak cengeng seperti
waktu sekolah dulu. Tak manja lagi.
“Ini
semua atas izin Allah.” Ucap Adam. Nissa manggut-manggut. “Rencana ke depan
apa, Nis? Pasti udah ada banyak rencana kan di kepala kamu?”
Nissa
berpikir sebentar. Lalu tersenyum penuh arti. “Hm, cita-citaku yang paling
besar adalah, ingin jadi istri dan ibu yang baik.”
Adam
terbelalak. Lalu kembali tersenyum, “Wah, ini sih indikasi Nissa mau nikah ya?
Haha.” Adam tergelak. “Eh, emang Nissa udah punya pacar ya?” ledeknya. Nissa
merenggut. Manyun sampai lima senti.
“Ye, kan nggak bisa pacaran. Kakak kali ya, udah punya pacar.” Timpal
Nissa sengit. Adam hampir saja menjitak kepala Nissa saking gemasnya.
“Hm,
kayaknya aku harus ngenalin seseorang.” Ujar Adam berbinar. Nissa tiba-tiba
merasa tersudut. Belum apa-apa pikirannya nyangkut kemana-mana. Ngenalin
seseorang? Nissa mulai berpikir cepat, dalam tempo yang singkat ia menemukan
analisa menyebalkan yang membuat raut riang di wajahnya seketika hilang.
Apakah
Adam akan mengenalkan seorang wanita kepadanya?
“Siapa,
kak?” tanya Nissa. Seperti hilang kesadaran. Pandangan matanya kosong.
Berbanding terbalik dengan Adam. Ia Nampak gembira dan sangat antusias. Nissa
terhuyung. Inikah akhir penantiannya selama ini. Setelah sabar menunggu.
Setelah berusaha dengan sekuat tenaga menjaga cintanya. Meski sebenarnya Adam
tak tahu. Meski sebenarnya dunia akan Nissa tukar untuk Adam jika dia ingin.
Ibarat kata, gunung akan ia daki, lautan ia sebrangi. Hanya untuk kekasih hati.
Tapi, akankah semuanya hancur hanya dengan satu kata? Dengan satu keputusan?
Nissa
pura-pura bahagia. Mukanya memerah karena malu dan kecewa. Malu pada takdir.
Malu pada keyakinannya. Malu kepada dirinya karena tiba-tiba menara
keyakinannya goyah. Sadarlah hey Nissa. Inilah kenyataan. Kadang orang harus
lama menunggu untuk mendapat apa yang ia inginkan. Ketika kita berdoa, mungkin bukan
Allah tak menjawabnya. Namun seringkali jawabannya adalah tidak. Nissa menatap
punggung Adam yang makin menjauh. Kalau
ia pergi, tak pernah kembali menoleh. Nissa tak pernah berpaling. Hingga
bayangan Adam hilang dari matanya. Namun kali ini ada yang berbeda. Adam
menoleh. Ia melihat dirinya di mata Nissa. Kecil dan jauh. Nissa tersenyum
getir sambil melambaikan tangan. Lambaian tangan yang sama sekali tak
bergairah.
***
Nissa
mendapat sebuah pesan singkat dari Adam. Pesan yang berupa agenda. Akh, mana
mungkin Nissa lupa. Hari ini Adam akan mengenalkan seseorang pada Nissa.
Seseorang yang menentukan apakah penantian Nissa akan berakhir disini atau
tidak. Ataukah Nissa akan tetap memupuk cintanya meski hati Adam sudah dimiliki
orang lain. Nissa tak peduli. Hari ini ia akan datang. Meski dengan itu ia akan
menangis darah atau mengeluarkan ingus batu. Meski ia akan langsung pingsan begitu
bertemu. Atau kemungkinan aneh lain.
Akhirnya
Nissa pun datang. Dengan mantap ia melangkah. Sebelumnya Nissa hilangkan raut
jengkel dan menyetel tampang manis. Ia kenakan gamis terbaiknya. Kerudung ungu
tersampir dengan indah melindungi mahkotanya. Dan ia menjejakkan kaki dengan
binar kekaguman dari orang disekelilingnya. Segenap hatinya memohon ketegaran.
Meminta pundak yang kokoh dan cukup kuat untuk menopang beban dukanya.
Adam
tersenyum. Ia duduk sendiri. Namun gelas juice di meja sudah tersaji. Tiga
buah. Hm, nampaknya Adam paham betul seleranya. Sampai-sampai sudah dipesankan
minum segala. Nissa sedikit sebal. Tapi hari ini ia berjanji, ia tak akan
bermuka sedih. Ia akan tersenyum sampai pulang nanti. Ya, pasti.
“Subhanallah,
ukhti.” Komentar Adam manis. Nissa tersipu. Tidak. Jangan terlalu senang Nissa.
Nissa membatin. Ia duduk di depan Adam dengan anggun. Adam akui. Nissa yang
sekarang jauh lebih cantik dengan balutan busana muslim. Jauh lebih dari apa
yang dapat ia bayangkan.
“Dia
bentar lagi kesini. Katanya masih ada perlu sama kakaknya.” Tutur Adam. Nissa
Cuma manggut-manggut. Ia sama sekali tak butuh informasi itu. Nissa sudah tak
sabar. Seperti apa ukhti yang akan Adam bawa kehadapannya. Apakah lebih
darinya? Ah, Nissa menggeleng dalam hati. Tidak Nissa. Sifat sombong bukanlah
ciri seorang ukhti. Nissa tertunduk malu. Hatinya belum ia selimuti. Ia masih
berpenyakit.
“Assalamu’alaikum.”
Seseorang di balik punggung Nissa menyapa mereka berdua dengan nada riang.
Nissa mengernyit. Dari suaranya sih, seorang ikhwan. Nissa berbalik. Hatinya
langsung bertasbih. Belum sedetik kemudian Nissa berpaling. Menatap kearah
lain. Subhanallah, orang ini ganteng banget. Tampangnya Indonesia sekali dengan
senyumnya yang menawan. Adam terlihat akrab. Mereka bercakap-cakap ramai. Nissa
duduk dengan hati gelisah. Adam, untuk apa dia membawa orang lain segala.
Apakah ia takut Nissa akan kesepian. Jadi kambing congek gitu? Hm, menyebalkan.
“Ngomong-ngomong,
siapa adik kecil ini?” tanya ikhwan itu. Mereka kini duduk berbincang bertiga.
Meski pembicaraan dikuasai dua orang ikhwan ini. Nissa tersenyum manis.
“Kenalkan,
ini Khaerunnissa, adik saya.” Ujar Adam senang. Nissa mencelos. Adik? Benarkah
hanya sebagai seorang adik? Nissa berkaca-kaca. Ia seperti sedang memakai celak
di matanya. Perih dan basah oleh air mata.
“Saya
Aliansyah.”
***
“Dia
ganteng, kan? Baik lagi.”
Nafas
Nissa memburu. Maunya apa sih orang ini? Ingin
sekali Nissa membanting handphone-nya
ke cermin. Merusak bayangannya yang entah berekspresi seperti apa.
“Iya
lah. Kalo dibandingin kakak dia lebih ganteng. Lebih akhi.” Ujar Nissa
asal-asalan. Sedetik kemudian Nissa sadar. Kata-katanya terlalu kasar. Hm semoga
Adam maklum. Nissa menggigit bibirnya cemas.
“Bagus
deh kalau gitu. Semoga sukses ya. Katanya mau jadi istri dan ibu yang baik.
Hehe” candanya garing. Nissa tak berkomentar apapun. Adam akhirnya bersuara.
“Nissa, nama kamu itu artinya apa ya?”
“Kenapa
nanya gitu? Emang kakak ga tau?” Nissa manyun.
“Tahukah
kamu memiliki nama yang indah. Khaerunnissa yang berate sebaik-baik wanita. Tahukah
kamu, sebaik-baik wanita itu seperti apa?”
Nissa
diam lagi. Kejadian hari ini cukup untuk membuatnya ngeyel dan bĂȘte sepanjang
hari. Dan kali ini, Nissa memaksakan diri bicara dengan Adam.
“Sebaik-baik
wanita itu adalah yang bila diberi sesuatu ia bersyukur, dan bila tidak diberi
apa-apa ia bersabar. Yang menyenangkan bila dilihat dan menaati bila disuruh.
Doa kakak untuk Nissa, semoga Nissa adalah sebaik-baik wanita di dunia ini.”
“Begitukah?
Amin. Makasih, ka.” Tandas Nissa dalam. Sungguh, ia ingin berteriak pada dunia.
Hanya Syaiful Adam yang menempati hatinya. Seberapa tampan orang itu tak akan
mampu membuat hatinya berpaling. Setelah bertahun-tahun ia melabuhkan rindu
pada sosoknya. Tidak, kakak. Hanya kakak yang Nissa ingin.
“Ya
udah. Istirahat sana. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Assalamualaikum.”
Klik.
Sambungan terputus. Nissa membiarkan malaikat yang menjawab salam Adam.
Pikirannya mengembara, menerka-nerka. Dan hanya satu kata yang ia temukan.
Cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Kalau
aku tak punya agama. Kalau aku tak punya kesabaran, kalau aku adalah orang yang
berbuat semauku, kalau aku tidak malu. Mungkin aku sudah menyerahkan semua yang
aku punya untukmu. Ini adalah perasaan besar, yang belum pernah aku punya
sebelumnya.”
Tahukah
kau kepada siapa orang yang mencintai akan dibalas beribu-ribu kali lipat.
Tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan dan merasa kecewa?
Segurat
rasa kecewa Nissa menghadirkan tanya dalam hati. Tuluskah ia memperbaiki diri?
Apa ini karena Dia atau dia? Perbaikan diri ini apakah untuk mendapat perhatian
Dia atau dia? Dia atau dia? Nissa terhelap. Astaghfirullah. Ia beristigfar
berkali-kali.
Mimpi
Ada mitos yang mengatakan, jika kita memimpikan seseorang berarti orang itu
merindukan kita. Hari ini aku menyadari bahwa itu semua terbalik. Seharusnya kita
merindukan orang itu, karena saking rindunya sampai terbawa ke alam mimpi.
Bagaimana bisa sepert itu? Tentu saja bisa! Karena kekuatan
rasa yang begitu mempengaruhinya. Menurut wikipedia Indonesia mimpi adalah pengalaman bawah sadar
yang melibatkan penglihatan, pendengaran,
pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur,
terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM
sleep). Jadi, ketika pikiran kita tertuju pada satu orang yang kita rindukan,
ia muncul dalam mimpi tersebut. Karena sesungguhnya perasaan rindu melahirkan sebuah
khayalan yang melibatkan penglihatan, pikiran, perasaan bahkan indera lainnya.Seperti
mimpi, dan akhirnya tertuang dalam mimpi tersebut.
Semua mimpi kita ada hubungannya
dengan berbagai macam emosi yang kita rasakan. Bahkan, sesuatu yang ada di luar
diri kita (bukan emosi)-pun dapat mempengaruhi mimpi kita. Misalnya rasa lapar,
kedinginan, kebelet pipis, dan lain sebagainya. Ketika sedang tidur selimut
kita terlepas, bisa jadi di alam mimpi kita sedang bermimpi ada di gunung es
yang dingin. Atau di alam mimpi berhasrat ingin buang air kecil, padahal di
alam sebenarnya memang kita berhasrat ingin buang air kecil. Juga, bisa jadi
mimpi-mimpi kita berasal dari pengalaman-pengalaman kita hari ini.
Namun,
tetaplah mimpi hanyalah bunga tidur. Seindah apapun mimpi, ketika kamu bangun,
kamu akan sadar kalau itu hanyalah mimpi. Dan akan terus menjadi mimpi jika
kamu tak membuatnya menjadi nyata. Namun, selamat bermimpi. Karena hidup
berawal dari mimpi.
J
Sepotong Hati
Jum'at, 21 Desember 2012
Beberapa hari ini kegalauan menimpa gue, die...
Do you know die? gue menumpahkan air mata malam-malam kemarin, terasa gue sangat lemaaaahh selemah-lemahnya. Karena apa?
Karena merasa sendiri, diantara kegalauan gue dengan berbagai masalah hidup, kuliah, dan organisasi. Ketika dua saudara gue menghilang untuk sejenak (padahal buat tugas), dan merasa dicampakkan, tidak dibiarkan bersandar pada orang yang biasa gue bersandar. Saat itu gue merasa jatuh, dan sakit. Sehingga tanpa gue perintah, air mata keluar begitu saja.
Cengeng ya? Mungkin memang iya, tapi beberapa jam kemudian gue merasa lebih kuat dari biasanya. Gue bertekad untuk mandiri. Gue bertekad buat fokus pada tugas-tugas gue. Gue bertekad untuk tetap tabah sampai akhir, sampai gue bisa memetik kebahagiaan dengan tangan gue sendiri. Melangkah menuju puncaknya dengan kaki gue sendiri.
Tapi, die. Ada sepotong hati yang baru disini. Gue YAKIN ini nggak boleh terjadi!!
Gini die, kadang gue bisa mengingat beberapa kejadian dalam hidup gue yang entah kenapa, meskipun sudah bertahun-tahun, gue selalu terkenang. Seperti kata lagu Bimbang, pada syairnya yang mengatakan "Pertama kali aku tergugah, dalam setiap kata yang kau ucap...."
Bagi gue, hal-hal yang bisa ingat itu adalah hal-hal spesial yang membuat gue tergugah, saat itu, saat ini dan saat-saat di masa depan. Dan gue mengingatnya, Die. Pertama kali gue melihat dia, kata-katanya. Dan dalam perjalanan gue disini, dia hampir selalu ada mendampingi.
Jadi die, gue nggak meyakini kalau ini sebuah rasa yang berbeda selain rasa kasih sayang biasa, seperti saudara. Hanya itu. Karena sesungguhnya gue merasa telah lelah dengan cerita cinta lalu yang berakhir menyedihkan. Jadi, gue udah hampir nggak percaya. Gue kapok die! Mending gue menunggu seseorang yang bakal Allah berikan buat gue. Mending gue fokus sama kuliah gue, mendingan gue terus berkarya di mapala gue, mapala gue yang tercinta.
Tapi die, sepiiiiiii... Dan kesepian itu selalu menyiksa. Gue sadar, gue punya Tuhan, Allah, yang selalu menaburkan kasih sayang-Nya dimanapun gue berada. Die, seandainya lo adalah sesuatu yang bisa membuat gue tersenyum dengan kata dan gurauan. Seandainya lo adalah sesuatu yang bisa mengusap air mata gue ketika gue menangis. Seandainya lo adalah sesuatu yang bisa menggenggam tangan gue ketika gue merasa sendiri dan takut. Seandainya lo adalah sesuatu yang bisa buat gue bersandar.
Dan berjuta seandainya yang bisa membuat gue merasakan berjuta perasaan.
Langganan:
Postingan (Atom)


